Monday, December 11, 2017

Bagi Guru Baru, Lakukan Beberapa Hal Berikut ini ketika pertama kali mengajar Matematika

Bagi Guru Baru, Lakukan Beberapa Hal Berikut ini ketika pertama kali mengajar Matematika-Semua guru atau dosen matematika pasti mengalami dan memiliki pengalaman unik ketika pertama kali mengajar matematika. Tentu saja sensasi yang dirasakan para guru matematika akan berbeda dengan guru mata pelajaran lainnya. Lebih sulit bagi guru (baru) matematika dalam pengalaman pertama mengajar ketimbang guru mata pelajaran lainnya. Pernyataan ini bukan untuk menganggap sepele guru-guru mata pelajaran lain, tetapi memang pada dasarnya matematika telah dianggap seperti monster bagi para siswa di belahan manapun dan karenanya hal ini membuat keringatan para guru yang pertama kali mengajar matematika.

Dari sekian tingkatan sekolah, guru di tingkat Sekolah Dasar akan lebih sulit untuk menghadapi pengalaman mengajar pertama mereka. Mengapa saya bilang seperti itu ? Tentu para guru paham akan hal tersebut karena telah dibekali pada saat kuliah di LPTK bahwa karakteristik anak-anak bertolak belakang dengan karakteristik matematika. Guru memikul beban dan tanggung jawab besar karena harus menjadi jembatan penghubung antara pemikiran anak dan materi matematika. Untuk itu, hari pertama mengajar merupakan momen paling menentukan dalam keseluruhan karir dari guru yang bersangkutan. Saya mengingat tagline sebuah iklan, saya lupa iklannya apa tetapi taglainenya begini: “Awalnya begitu menggoda selanjutnya terserah anda”. Oh ya, iklan sebuah produk minyak wangi kalau nggak salah. Jadi pengalaman pertama mengajar matematika menjadi penting.

Seperti diketahui bahwa kurikulum LPTK guru dibuat untuk membekali para calon guru dengan yang istilah sekarang dinamakan TPCK. Jadi sebetulnya untuk bekal mengajar guru bukanlah masalah. Bahkan guru telah dibentuk melalui beberapa proses praktik mengajar baik saat kuliah microteaching maupun pada saat praktik. Namun, ada saja banyak guru matematika yang baru mengalami kesulitan pada pengalaman mengajar pertama mereka.

Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan pada saat atau akan pertama mengajar matematika.

# Masuk Kelas Tepat Waktu

Masuk kelas tepat pada waktunya merupakan hal penting yang perlu dilakukan oleh para guru pada pengalaman pertama mengajar mereka. Hal ini akan menimbulkan kesan yang baik bagi siswa, sehingga para siswa akan percaya dengan apa yang dikatakan guru di masa depan. Perlu diingat bahwa matematika mengajarkan tentang kedisiplinan. Bila diperlukan guru dapat meminta untuk melihat ruang kelas dimana dia akan mengajar pertama kali. Tujuannya adalah agar guru dapat mengenal situasi kelas lebih awal yang berkontribusi bagi perencanaan mengajar pertama.

# Perhatikan Denah Kelas

Hitung berapa jumlah siswa dengan mendapatkan lebih awal informasi tentang siswa. Perhatikan pula denah tempat duduk di kelas anda. Begitu masuk kelas, panggil nama siswa di buku absen, lalu memberikan pandangan langsung ke tempat duduk dimana siswa dipanggil.  Hal ini akan menimbulkan kesan kesiapan guru dalam mengajar.

# Menyebutkan Nama Siswa dengan Tepat

Jika akan memanggil nama siswa, bermodalkan denah kelas, sang guru bisa menunjuk atau mendekati siswa sembari menyebut namanya. Efeknya aadalah siswa akan takjub, bagaimana pada tatap muka pertama seorang guru bisa tahu persis nama siswa.

# Mengendalikan kelas sejak pertemuan awal dengan perkenalan yang berkesan.

Tidak kenal, maka tak sayang. Begitulah bunyi peribahasa. Perkenalan awal yang berkesan akan memberikan pemahaman kepada siswa mengenai karakter guru yang sebenarnya. Tunjukkan dalam perkenalan bahwa anda adalah orang yang tegas. Ceritakanlah tokoh-tokoh matematika yang berhasil di jamannya agar siswa termotivasi untuk belajar. Berikanlah guyonan-guyonan yang membuat siswa terlena dan tidak memikirkan matematika yang sulit. Pokoknya, adalah bahwa guru mengambil waktu awal ini dengan perkenalan diri dan mengenal siswa yang akan diajarkan.

# Mengajar materi awal dengan percaya diri dan menunjukkan bahwa matematika terlihat sangat mudah

Matematika memang sulit. Tetapi keterampilan guru membawa pengalaman siswa ke kelas yang ada hubungannya dengan matematika akan membuat siswa merasa bahwa matematika adalah apa yang ada dalam kehidupan mereka. Lakukan permainan permainan dalam apersepsi dan berikan alasan mengapa materi yang diajarkan penting dipelajari.

Tentu saja ini hanyalah beberapa hal yang mesti dilakukan guru baru ketika awal mengajarkan matematika. Semoga bermanfaat

Monday, December 4, 2017

MENCIPTAKAN JOYFUL LEARNING PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

MENCIPTAKAN JOYFUL LEARNING PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR- Judul tulisan ini merupakan judul makalah yang dikirimkan oleh Mas  Chrisnaji Banindra Yudha dari  STKIP Kusuma Negara Jakarta untuk Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar (SENADA) 2017.

Ringkasan - Prinsip Pembejaran Joyful Learning (pembelajaran yang menyenangkan) menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, nyaman, dan mendorong peserta didik untuk belajar. Dalam Pembelajaran yang menyenangkan diciptakan lingkungan belajar yang bersifat rekreasi dan bersenang-senang yang berdampak pada perhatiannya atau konsentrasi yang tinggi. Pendidik bersikap hangat dan memotivasi peserta didik dalam pembelajaran matematika khususnya. Peserta didik pada tingkat sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret.

Pendahuluan - Mata pelajaran Matematika membentuk pola pikir yang mempelajarinya. Peserta didik khususnya, diantaranya berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dengan penuh kecermatan. Proses pembentukan pola pikir peserta didik dapat diterima dengan baik apabila pembelajaran matematika di sekolah dikemas secara sistematis. Kemampuan kreatifitas dan profesionalisme pendidikdalam memberikan pembelajaran matematika diperlukan dalam hal ini. Masuk pada era digital yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak kreatifitas yang dapat diterapkan oleh seorang pendidik . Peneraan tersebut meliputi metode pembelajaran dan strategi pembelajaran yang tepat dan menyengankan. Pada pelaksanaannya, penerapan metode atau srategi tersebut disesuaikan dengan perkembangan berpikir anak terutama peserta didik pada tingkat sekolah dasar. Dengan demikian, tugas pendidik dalam hal ini memberikan pembelajaran matematika dengan metode atau strategi yang dapat membentuk pola pikir anak dan disesuaikan dengan perkembangan berfikir anak serta bersifat menyenangkan.

Menurut Piaget, peserta didik sekolah dasar berada pada tahap operasional konkrit. Pada tahap ini menggambarkan pemikiran peserta didik berdasarkan logika yang bersifat kekal. Peserta didik yang berada pada tahap ini, mereka mampu membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat. Oleh karena itu, melalui tahap ini peserta didik telah mampu untuk menerima dan menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan dasar mata pelajaran matematika dalam rangka pengembangan pengetahuan pada jenjang pendidikan selanjutnya.

Mempelajari matematika dibutuhkan analisa yang mendalam dari pada ilmu yang lain. Dalam kondisi ini peserta didik sering mengalami dan menemui kesulitan. Pendidik yang menyampaikan mata pelajaran matematika terkadang beranggapan bahwa peserta didik dapat memahami konsep dalam matematika seperti yang dipahami oleh pendidik tersebut. Pada kenyataannya, peserta didik menganggap matematika sebagai pelajaran yang sulit untuk dimengerti. Anggapan yang semacam ini akan terus menerus menjadi momok bagi setiap peserta didik sampai generasi berikutnya. Oleh karena itu, peran pendidik sangat penting untuk membangun keyakinan peserta didik terhadap matematika khususnya di Sekolah Dasar. Dengan demikian untuk menyampaikan dan mempelajari mata pelajaran matematika diperlukan metode pembelajaran yang tepat.

Joyful Learning merupakan metode pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan meliputi metode belajar mengajar yang menyenangkan. Melalui pembelajaran yang menyenangkan materi-materi pembelajaran dapat disampaikan pendidik dengan mudah. Pembelajaran yang menyenangkan dapat didukung melalui keaktifan peserta didik yang menjadi subjek pembelajaran. Peserta didik aktif dalam joyful learning karena mereka tahu guna dan manfaat belajarnya. Selain keaktifan peserta didik , pendidik pun dituntut untuk mampu berperan hangat, kooperatif, sosok orangtua, dan sebagai fasilitator. Dengan demikian, melalui Joyful Learning peserta didik mampu belajar dan tahu apa fungsi belajar yang dipelajarinya.

Makalah ini dapat digunakan untuk pendidik, dalam rangka menanamkan pembelajaran yang menyenangkan pada peserta didiknya. Diharapkan peserta didik mampu untuk belajar dengan menyenangkan dengan penuh perhatian yang tinggi.

Pengertian Joyfull Learning - Menurut E. Mulyasa (2006:191-194) joyfull learning merupakan suatu proses pembelajaran yang didalamnya terdapat sebuah kohesi yang kuat antara pendidik dan peserta didik, tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan (not under presssuere). Pembelajaran yang menyenangkan adalah suasana belajar mengajar yang menyenangkan sehingga peserta didik memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi (Depdiknas 2004: 3, 3-8). Zuroidah (2005: 36), pembelajaran menyenangkan berarti sesuai pembelajaran yang tidak membosankan. Jika peserta didik terlibat langsung sebagai subjek belajar maka mereka selalu senang dalam belajar. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa, Pembelajaran dikatakan menyenangkan apabila dalam pembelajaran tersebut terjadi interaksi yang rileks, tidak ada ancaman atau bebas dari tekanan, keterlibatan peserta didik dan pendidik tercipta dengan hangat dan bergembira akan tetapi memiliki tingkat perhatian yang tinggi.

Prinsip Joyful Learning - Prinsip pembelajaran yang menyenangkan sangatlah sederhana, yaitu peserta didik senang dalam belajar dan belajar tahu untuk apa dia belajar. Untuk mendukung pembelajaran yang menyenangkan, seyogyanya disiapkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan memanusiakan peserta didik . Perhatian dan focus yang tinggi dalam pembelajaran dapat muncul pada kondisi kelas yang nyaman. Menurut Asri C. Budiningsih (2005: 7), lingkungan belajar yang demokratis memberi kebebasa kepada anak untuk melakukan pilihan-pilihan tindakan belajar dan akan mendorong anak untuk terlibat secara fisik, emosional, dan mental dalam proses belajar sehingga akan memunculkan kegiatan yang kreatif dan produktif. Pada kondisi nyata dewasa ini, ada banyak pendidik yang memiliki aturan yang taat di kelas. Taat yang dimaksud dalam hal ini adalah memberi kesan menakutkan peserta didik . Prakarsa anak dalam belajar dimungkinkan akan berkurang dan bahkan hilang ketika peserta didik dihadapkan pada kondisi tersebut. Anak akan kehilangan kebebasan dalam belajar dan bertindak. Peserta didik akan mengembangkan pertahanan diri yang tinggi, hal ini merupakan suatu keadaan manusiawi dimana terjadinya tekanan atau rasa takut pada peserta didik . Menurut Asri C. Budiningsih (2005: 7), anak-anak demikian akan mengalami growth in learning dan akan selalu meyembunyikan ketidaktahuannya.

Peserta didik dapat belajar pada lingkungannya. Lingkungan peserta didik adalah suatu keadaan dimana timbul keceriaan, kegembiraan, keluesan dan penuh dengan cinta. Dari lingkungan yang telah tercipta tersebut peserta didik mampu untuk memiliki kepercayaan diri, perasaan akan pengakuan terhadap dirinya pun akan muncul. Munculnya kondisi tersebut karena peserta didik diberikan kebebasan untuk mengekpresikan terhadap dirinya. Dengan demikian prinsip Joyful Learning adalah menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan mendorong anak untuk belajar.

Langkah Joyful Learning - Joyful Learning dalam pelaksanaannya menggunanakan proses pembelajaran yang memberikan kesan gembira melalui games, kuis, aktifitas yang bersifat fisik. Joyful Learning menggunakan pendekatan permainan dan rekreasi agar muncul kreatif, aktif dan menyenangkan.

1) Tahap persiapan

a) Mengajak peserta didik keluar dari mental yang pasif
b) Menyingkirkan rintangan belajar
c) Merangsang minat dan rasa ingin tahu peserta didik
d) Member peserta didik perasaan yang positif mengenai dan hubugan bermakna dengan topic pembelajaran.
e) Mendorong peserta didik untuk bergembira, aktif berfikir, menciptakan, tumbuh, dan memiliki konsentrasi yang tinggi.
f) Mengajak peserta didik untuk bersedia masuk dalam komunitas belajar. Pada tahap ini pendidik dapat memberikan dorongan kepada peserta didik melalui yel-yel, bernyayi bersama, bertepuk riang bersama.

2) Tahap penyampaian

Dalam tahapan yang kedua atau tahap penyampaian, peserta didik diajak untuk belajar pada hal-hal yang nyata dan sering peserta didik jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran matematika dimulai dari pengenalan masalah yang sesuai dengan kontek dan situasi. Mengajukan permasalahan yang kontektual. Peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasi konsep/materi matematika yang sedang dipelajari. Pendidik memotivasi peserta didik bahwa matematika merupakan pembelajaran yang sangat mudah dan sesuai dengan kehidupan nyata.

3) Tahap pelatihan

Tahap pelatihan merupakan tahap yang inti. Apa yang dipikirkan dan dikatakan serta dilakukan peserta didik lah yang menciptakan pembelajaran sebenarnya dan bukan apa yang dikatakan serta yang dilakukan oleh pendidik . Peserta didik dimohon untuk mempraktikkan secara berulang, keterampilan-keterampilan yang diperoleh selama pembelajaran berlangsung. Peserta didik memperoleh umpan balik dari pendidik secara segera dan melaksanakan beberapa keterampilan yang lainnya. Mintalah pendapat peserta didik , apakah yang mereka alami dan berikan kesempatan pada peserta didik untuk memberikan idenya mngenai peningkatan prestasi yang akan diperolehnya selanjutnya.

Pembelajaran diseting seolah-oleh bermain. Hal ini dapat didukung melalui animasi, gambar, atau games berbentuk kuis yang diharapkan peserta didik mampu untuk lebih tertarik dan senang dalam pembelajaran. Peserta didik yang memiliki keterampilan, idea tau gagasan yang paling baik, maka dapat diberikan kesempatan untuk memperoleh hadiah atau sertifikat. Pada sela-sela pembelajaran agar muncul lingkungan yang bergembira, maka pendidik dimohon untuk berkreasi seperti melawak, berpantun ria, atau kesan akarab lainnya.

4) Tahap penutupan

Pada tahap ini pendidik memberikan penguatan terhadap materi yang telah diperoleh peserta didik . Hal tersebut bias dilaksanakan dengan menyimpulkan pembelajaran yang telah diperoleh. Pada tahap ini pendidik dapat menutup pembelajaran dengan memutarkan film (apabila ada sarananya), bernyayi bersama-sama atau beryel-yel bersama.

Joyful Learning dalam matapelajaran matematika -Dalam menerapkan Joyful Learning dalam mata pelajaran matematika terdapat beberapa tahapan yaitu

1) Tahap dasar, pendidik meyapa peserta didik dengan ramah dan bersemangat serta menciptakan suasana yang rileks. pendidik bersama peserta didik bernyayi bersama dan pendidik memotivasi peserta didik bahwa matematika adalah pembelajaran yang mudah.

2) Tahap pelaksanaan, pemberian masalah kontektual kepada peserta didik Peserta didik menemukan sendiri suatu konsep, prinsip atau prosedur dengan melalui penyelesian masalah kontektual. Masalah yang real atau masalah yang kontektual untuk mengawali pembelajaran. selain itu, variasi strategi informal juga diperlukan. dari Joyful Learning strategi tersebut, peserta didik dengan bimbingan pendidik melaksanakan generalisasi dan formalisasi, sampai peserta didik menemukan algoritma. Untuk memberikan kesan rileks, pendidik bias merubah tempat duduk peserta didik secara fleksibel.

3) Tahap penemuan, peserta didik aktif mengkontruksi sendiri bahan-bahan matematika berdasarkan fasilitas dengan lingkungan belajar yang disediakan pendidik , secara aktif menyeleseikan soal dengan cara masing-masing. kegiatan belajar bersifat interaktif, yang memungkinkan terjadi komunikasi dan negosiasi antar peserta didik .

4) Tahap refleksi, Peserta didik menjelaskan dan memberikan alasan terhadap jawaban yang diberikannya, memahami jawaban temannya (peserta didik lain), setuju terhadap jawaban temannya, menyatakan ketidaksetujuan, mencari alternatif penyelesaian yang lain, dan pendidik melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pembelajaran.

Kesimpulan

1) Joyful Learning dapat diterapkan pada proses pembelajaran, khususnya matematika.
2) Ciptakan lingkungan belajar yang gembira dan penuh rekreasi.
3) Pendidik dituntut untuk mampu berperan hangat, kooperatif, sosok orangtua, dan sebagai fasilitator.
4) Dalam Joyfull Learning, keterlibatan peserta didik dan pendidik tercipta dengan hangat dan bergembira akan tetapi memiliki tingkat perhatian yang tinggi.

Daftar Pustaka

Asri Budiningsih. C., 2005. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara
E. Mulyasa. 2006. Menjadi Pendidik Professional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Depdiknas. 2004. Peningkatan kualitas pembelajaran. Jakarta: Depdiknas Ditjen
Zuroidah (2005: 36), meningkatkan kemampuan belajar. Jakarta: Bumi Aksara

Saturday, December 2, 2017

Inovasi Pembelajaran Menyenangkan di Tingkat Pendidikan Dasar

Inovasi Pembelajaran Menyenangkan di Tingkat Pendidikan Dasar - Judul tulisan ini merupakan tema dari Seminar Nasional Pendidikan Dasar (SENADA) yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Flores Ende pada Hari ini, Sabtu, 2 Desember 2017. Seminar ini dihadiri oleh kurang lebih 500 peserta dan 50 Pemakalah dari berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia. Tujuan seminar ini yaitu sebagai ajang berbagi informasi mengenai pembelajaran inovatif dan kreatif baik di tingkat SD maupun SMP; bagaimana merancang proses pembelajaran yang efektif dan menyenangkan dan akhirnya dapat mengimplementasikannya.

Berkaitan dengan tema tersebut di atas, panitia menghadirkan empat narasumber sebagai pemakalah utama, yaitu: Prof. Dr. C.Asri Budiningsih, M.Pd dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), T. Novi Poespita Candra, M.Si, Psikolog (UGM), Dr.Sofia Sa’o (Uniflor) dan Felix Welu,S.Pd.,M.Pd (Uniflor). Keempat pemakalah ini akan menyampaikan isi makalahnya dalam sesi utama. Selain makalah dari tiga pemakalah utama di atas, panitia juga menerima makalah dari beberapa Instansi di Indonesia untuk dipublikasikan dan akan dipresentasekan dalam sesi paralel. Dari makalah-makalah yang diterima oleh panitia terdapat pengirim makalah dari Universitas PGRI Palembang, STKIP PGRI Lubuk Linggau, Universitas Teknologi Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Haluoleo Kendari, SDK Ndona 2, Universitas Nahdlatul Ulama NTB, SDK Ende 7, SDI Ende 16, STKIP Kusuma Negara Jakarta, Universitas Hamzanwadi Selong NTB, SDK Sadha, SDI Malanuza, SMPN 5 Bajawa dan Wahana Visi Indonesia (WVI). Seminar ini juga dihadiri oleh peserta pendengar yang terdiri dari Mahasiswa, Dosen, Guru dan Praktisi dunia pendidikan. Sebagian besar peserta berasal dari instansi-instansi di Pulau Flores.

Dalam Seminar yang diselenggarakan di Hotel Flores Mandiri ini, Bu Prof. Asri Budiningsih membawakan makalah berjudul :" Peningkatan Kualitas Pembelajaran", T. Novi Poespita Candra rencananya akan membawakan makalah berjudul : "Konsep Sekolah Menyenangkan   namun beliau tidak bisa hadir karena tugas yang tidak dapat beliau tinggalkan. Ibu Sofia Sao membawakan makalah berjudul Aplikasi Pembelajaran Realistik dalam K-13 untuk Siswa Sekolah Dasar dan Pak Felix Welu, Kaprodi PGSD Universitas Flores membawakan makalah berjudul: " Pendekatan Holistik Pendidikan Karakter Di Sekolah Indonesia". Keempat Pemakalah ini menyajikan makalah yang sesuai tema seminar.

https://solusimatikasd.blogspot.co.id/2017/12/inovasi-pembelajaran-menyenangkan-di.html
Pemakalah Paralel Senada 2017
Selain Pemakalah utama, Pemakalah paralel terdiri dari 50 Orang dan semuanya menyajikan makalah terkait inovasi pembelajaran di SD dan SMP. Beberapa makalah yang dipresentasikan pada sesi paralel diantaranya adalah makalah tentang bagaimana  MENCIPTAKAN JOYFUL LEARNING PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR oleh pak Yudha dari STKIP Kusumanegara Jakarta. Selain pak Yudha, ada pemakalah dari Lombok yaitu bapak Yazid yang memaparkan tentang : EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA MASYARAKAT SUKU SASAK LOMBOK TERHADAP PENANAMAN KARAKTER BUDAYA.
Tentu saja masih banyak pemakalah paralel lain selain pemakalah di atas.   Secara umum acara ini berlangsung sukses dan menghasilkan keluaran dalam bentuk prosiding.

Thursday, November 30, 2017

Beberapa Karakteristik Masalah yang Dapat Mengganggu Proses Pemahaman Matematika pada Siswa

Beberapa Karakteristik Masalah yang Dapat Mengganggu Proses Pemahaman Matematika pada Siswa-Jika kita membaca berbagai hasil penelitian, rata-rata penelitian di indonesia menggambarkan rendahnya kemampuan matematika siswa. Hal ini tentu saja diperjelas dengan rendahnya hasil TIMSS dan PISA yang diperoleh siswa Indonesia. Tentu saja prestasi siswa tertentu dari Indonesia pada ajang-ajang internasional, misalnya olimpiade matematika bukanlah hal yang bisa digunakan untuk menutupi realitas sebenarnya dari kemampuan seluruh siswa indonesia.

S.P. Gurganus (2010) dari Pearson Allyn Bacon Prentice Hall mengutip Undang-Undang untuk Penyandang Cacat (IDEA, 2004) menyatakan bahwa Siswa dengan kemampuan yang rendah dalam matematika biasanya dikelompokkan berdasarkan beberapa kategori seperti (1) ketidakmampuan belajar tertentu, cacat kognitif ringan sampai sedang, kecacatan emosional, gangguan bahasa, dan gangguan kesehatan lainnya. Jenis kecacatan tersebut memiliki dampak signifikan pada pembelajaran matematika sehingga prestasi belajar mereka rendah.

Lebih lanjut S.P. Gurganus (2010) mengidentifikasi bahwa masalah prestasi matematika ini biasanya disebabkan oleh kombinasi faktor pengajaran dan siswa termasuk faktor bahasa, kognitif, metakognitif, motorik, sosial dan emosional, kebiasaan belajar, dan pengalaman sebelumnya.

Masalah bahasa.

Sebagian besar siswa dengan cacat ringan memiliki masalah bahasa primer atau sekunder. Kelainan bahasa, menurut American Speech-Language-Hearing Association, adalah "gangguan pemahaman dan / atau penggunaan sistem lisan, tulisan, dan / atau simbol lainnya" (ASHA, 1993, hal 40). Kelainan itu mungkin melibatkan bentuk, isi, atau fungsi bahasa. Bahkan jika seorang siswa tidak memiliki gangguan bahasa yang teridentifikasi, dia mungkin menunjukkan kekurangan bahasa terkait kecacatannya.

Lalu apa hubungannya dengan pembelajaran matematika ? Di kelas matematika, masalah bahasa terbukti saat siswa mengalami kesulitan dalam menggunakan simbol matematika, mengekspresikan konsep matematika kepada orang lain, dan mendengarkan penjelasan matematis. Masalah juga muncul dengan membaca atau menulis masalah “kata” dan menulis dan mengekspresikan "kalimat." Matematika. Bahasa dapat menyediakan jembatan antara representasi konkret matematika dan bentuk abstrak dan simbolis lainnya. Seiring kemajuan siswa dalam pembelajaran matematika, mereka juga menggunakan bahasa untuk dipikirkan - mereka memanipulasi konsep dan gagasan melalui bahasa (lisan atau batin) tanpa harus bergantung pada pemaparan materi.

Sayangnya, beberapa siswa memiliki sedikit kesempatan untuk berbicara soal matematika. Guru yang membatasi pelajaran untuk ceramah, demonstrasi, dan lembar kerja membatasi perkembangan bahasa siswa mereka dan kemajuan matematika terkait. Siswa harus sering merespons dan mendiskusikan masalah matematika dan konsep satu sama lain dan guru. Siswa yang orang tuanya melanjutkan dialog di rumah akan mendapat manfaat tambahan.

Faktor kognisi.

Sebagian besar siswa dengan kecacatan ringan sampai sedang memiliki faktor kognitif yang menghambat pembelajaran. Faktor faktor ini mungkin faktor persepsi, ingatan, perhatian, atau penalaran. Persepsi melibatkan pengambilan informasi dari lingkungan dan memproses informasi untuk penyimpanan atau penggunaan. Ini bukan hanya melihat simbol bilangan tapi juga melihat dan menyalinnya. Ini bukan hanya mendengar urutan bilangan secara lisan namun mendengarnya dan melanjutkan urutannya. Bukannya melihat atau mendengar sendiri, ini adalah diskriminasi dan interpretasi masukan visual dan pendengaran. Masalah perseptual muncul dengan kesulitan menjaga tempat pada lembar kerja atau di dalam kolom angka, membedakan bentuk angka atau simbol, menyalin bentuk atau simbol, mengikuti petunjuk dengan algoritme atau grafik, mengenali pola atau urutan, dan memahami arah lisan atau latihan

Masalah memori. 
 
Masalah memori dapat mempengaruhi aspek kerja jangka panjang, jangka pendek, atau aktif. Kapasitas memori, dalam model pemrosesan informasi, berfungsi untuk menyimpan dan mengambil informasi yang dibutuhkan untuk berinteraksi dengan lingkungan. Ingatan jangka panjang adalah latar belakang pengetahuan dan pengalaman awal dimana informasi baru ditambahkan dalam berbagai bentuk. Organisasi yang tidak efisien dan integrasi informasi akan ingatan jangka panjang akan menimbulkan masalah dengan pengambilan nanti. Memori jangka pendek adalah daftar singkat informasi baru, yang sebagian besar disaring dan dibuang. Memori kerja aktif adalah tempat informasi baru disusun, disaring lagi, dan tujuan pembelajaran sebelumnya diambil untuk penggunaan aktif selama situasi pembelajaran atau pemecahan masalah. Kedalaman pemrosesan, organisasi, perhatian, dan kemampuan integratif siswa mempengaruhi seberapa baik kapasitas ini bekerja (Swanson & Sáez, 2003).

Faktor metakognisi.

Metakognisi adalah kesadaran akan keterampilan, strategi, dan sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan suatu tugas dan kemampuan untuk menggunakan mekanisme pengaturan sendiri, termasuk penyesuaian, untuk menyelesaikan tugas (Borkowski & Burke, 1996). Terkadang disebut "memikirkan pemikiran sendiri," metakognisi adalah proses yang melibatkan kesadaran dan pemantauan penggunaan strategi eksekutif dan kognitif. Siswa dengan masalah metakognisi mengalami kesulitan dalam memilih dan menggunakan strategi pembelajaran yang efektif. Mereka tidak memantau penggunaan strategi mereka sendiri dan mengalami kesulitan dengan generalisasi sepanjang waktu dan pengaturan. Misalnya, seorang siswa mungkin mengalami kesulitan dalam memutuskan bagaimana memecahkan masalah non-rutin. Bahkan jika siswa mencoba masalah, dia tidak memantau proses atau hasilnya. (Apakah ini masuk akal? Bagaimana saya bisa mengubah apa yang saya coba?) Selanjutnya, dia tidak dapat memanfaatkan pengalaman dengan masalah serupa karena tidak tampak serupa dalam konseptualisasi masalahnya.
 
Faktor motorik
 
 Masalah motorik banyak terlihat pada siswa yang lebih muda namun remaja yang tidak memiliki cacat fisik dapat berjuang dengan bentuk bilangan dan simbol. Keterampilan motorik, seperti perceptual, melibatkan lebih dari satu proses. Mereka mungkin melibatkan ingatan mengenai simbol bersama sama dengan bentuk yang sebenarnya (ingatan visual dan motor). Mereka mungkin melibatkan persepsi visual dan transfer (penyalinan). Atau mereka mungkin melibatkan integrasi otot halus dengan tuntutan tugas. Indikator masalah motorik sangat terlihat: simbol yang terbentuk buruk, sedikit kontrol jarak, waktu berlebih untuk suatu tugas, dan penghindaran pekerjaan tertulis.

Faktor sosial dan emosional.

Terkadang diabaikan di bidang akademis, faktor sosial dan emosional dapat menyebabkan banyak masalah belajar sebagai masalah kognitif. Rentang faktor ini sangat beragam seperti yang ditemukan pada siswa. Beberapa siswa mengalami masalah dengan hubungan sebaya atau orang dewasa, menyebabkan masalah dalam pengaturan pembelajaran kooperatif atau mencari bantuan. Yang lain memiliki konsep diri dan masalah harga diri yang menurunkan motivasi, ketekunan tugas, dan usaha. Siswa yang impulsif membuat kesalahan yang ceroboh dan tidak meluangkan waktu untuk memahami konsep dan koneksi yang lebih dalam. Siswa dengan kecemasan ekstrim - baik terhadap matematika atau sekolah pada umumnya - cenderung menghindari sumber kecemasan atau melakukan pada tingkat yang jauh lebih rendah daripada kemampuan mereka.

Kebiasaan belajar.

Kombinasi faktor lingkungan, kognitif, sosial, dan emosional, kebiasaan belajar terbentuk sejak usia dini namun pastinya dapat dimodifikasi sepanjang umur. "Kebiasaan belajar" mengacu pada bagaimana individu memandang dan berpartisipasi dalam belajar, disiplin diri dan motivasi diri, penetapan tujuan, keterlibatan dalam kegiatan belajar, dan penerimaan tantangan. Kebiasaan yang bisa mengganggu pembelajaran matematika meliputi penghindaran, ketidakberdayaan belajar, impulsif, sedikit rasa ingin tahu, penyelesaian tugas yang buruk, ketidaktertarikan, dan bekerja untuk "jawaban yang benar" daripada pengertian. Bahkan siswa dengan kemampuan matematika tinggi memiliki kebiasaan, seperti dorongan untuk kesempurnaan, yang dapat mengganggu perkembangan konsep yang kuat dan pemecahan masalah yang fleksibel.

Pengalaman Masa Lalu.

Pengetahuan awal dan pengalaman awal dengan matematika merupakan prediktor terbaik untuk kesuksesan siswa dalam belajar matematika. Banyak dari pengalaman ini telah dipengaruhi oleh faktor-faktor yang dijelaskan di atas. Namun, pengalaman pembelajaran matematika sebelumnya juga bisa berdampak signifikan terhadap prestasi. Jika guru sebelumnya tidak menjelaskan konsep dengan baik, tidak menggunakan metode pengajaran yang efektif, atau tidak beri waktu untuk penguasaan konsep matematika, siswa akan terganggu dalam belajar matematika. Jika kurikulum dan materi yang digunakan tidak sesuai dengan standar matematika, pembelajaran mungkin bersifat dangkal atau terbatas. Dan jika siswa tersebut tidak mampu mengembangkan pemahaman konsep secara mendalam maka prestasi matematikanya akan buruk.

Disadur bebas dari : S.P. Gurganus (2010). Characteristics of Students' Mathematics Learning Problems. https://www.education.com/reference/article/students-math-learning-problems/


Tuesday, November 28, 2017

Penyebab Kecemasan Matematika dan Pencegahannya

Penyebab Kecemasan Matematika dan Pencegahannya - Kecemasan matematika sering disebut juga ketakutan terhadap matematika, phobia matematika banyak melanda siswa maupun guru yang mengajar. Kecemasan, ketakutan, ketegangan atau phobia matematika ini perlu dicari cara pencegahan, cara penanggulangan ataupun cara mengurangi kecemasan matematika tersebut sehingga keluhan akan kemampuan matematika dengan sendirinya dikurangi. Marilyn Curtain-Phillips dalam tulisannya yang berjudul “The Causes and Prevention of Math Anxiety” mengutip pernyataan Tobias (1993) bahwa kecemasan matematika dapat menyebabkan seseorang melupakan dan kehilangan kepercayaan diri seseorang.

Lalu, apa yang dimaksudkan dengan kecemasan matematika, ketakutan matematika, phobia matematika ataupun ketegangan matematika ?

Secara umum kecemasan matematika telah didefinisikan sebagai perasaan ketegangan dan kecemasan yang mengganggu manipulasi bilangan dan pemecahan masalah matematika dalam berbagai bidang kehidupan maupun situasi akademis. Jika kita membaca berbagai hasil penelitian menegaskan bahwa tekanan waktu tes dan risiko rasa malu telah lama dikenal sebagai sumber ketegangan yang tidak produktif pada banyak siswa.

Pembelajaran matematika di sekolah dasar memang menyisahkan banyak masalah. Masalah-masalah ini berkontribusi penting bagi terciptanya kecemasan matematika siswa.

Pembelajaran matematika dengan pendekatan tradisional telah banyak menyebabkan kegelisahan pada diri siswa. Oleh karena itu, metode pengajaran harus dikaji ulang. Konsekuensinya, harus ada penekanan lebih pada metode pengajaran yang mengurangi ceramah, dan memperbanyak kegiatan diskusi.

Mengingat fakta bahwa banyak siswa mengalami kecemasan matematika pada proses pembelajaran yang tradisional, guru harus merancang ruang kelas yang akan membuat anak merasa lebih sukses. Siswa harus memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi atau tingkat kegagalan yang dapat ditoleransi. Oleh karena itu, kesalahpahaman siswa atau miskonsepsi siswa dalam memahami materi matematika harus ditangani dengan cara yang positif untuk mendorong partisipasi siswa dan meningkatkan kepercayaan siswa.

Studi telah menunjukkan siswa belajar paling baik saat mereka aktif daripada pasif (Spikell, 1993). Teori multiple intelligences membahas gaya belajar yang berbeda. Pelajaran disajikan untuk visual / spasial, logika / matematika, musikal, tubuh / kinestetik, interpersonal dan intrapersonal dan verbal / linguistik. Semua orang mampu belajar, tapi bisa belajar dengan cara yang berbeda. Karena itu, pelajaran harus disajikan dengan berbagai cara. Misalnya, berbagai cara untuk mengajarkan konsep baru bisa melalui bermain akting, bekerja dalam kelompok, menggunakan alat bantu visual, dan menggunakan teknologi pembelajaran. Peserta didik saat ini sangat berbeda dengan peserta didik berpuluh tahun yang lalu. Peserta didik saat ini lebih kritis dan mengajukan pertanyaan mengapa ada sesuatu yang dilakukan dengan cara ini atau dengan cara itu dan mengapa tidak seperti ini? Padahal peserta didik zaman dulu tidak mempertanyakan mengapa konsep matematika; mereka hanya hapal dan secara mekanis melakukan operasi yang dibutuhkan.

Siswa saat ini memiliki kebutuhan akan matematika praktis. Karena itu, matematika perlu sesuai dengan kehidupan sehari-hari mereka. Siswa senang bereksperimen. Untuk belajar matematika, siswa harus terlibat dalam mengeksplorasi, menduga, dan berpikir, tidak hanya terlibat dalam hafalan aturan dan prosedur.

Pengalaman negatif siswa di kelas matematika dan di rumah saat belajar matematika sering ditransfer dan menyebabkan kurangnya pemahaman tentang matematika. Menurut Sheila Tobias, jutaan orang dewasa terblokir dari peluang profesional dan pribadi karena mereka takut dinilai buruk dalam matematika oleh banyak orang. Pengalaman negatif ini tetap ada sampai masa dewasa mereka.

Matematika sering dikaitkan dengan rasa sakit dan frustrasi. Misalnya, tagihan yang belum dibayar, hutang tak terduga, buku cek yang tidak seimbang, formulir IRS adalah beberapa dari pengalaman negatif yang terkait dengan angka. Orang tua harus menunjukkan kepada anak-anak mereka bagaimana angka tersebut berhasil digunakan oleh mereka dengan cara yang menyenangkan, seperti memasak, menjahit, olahraga, pemecahan masalah dalam hobi dan perbaikan rumah.

Matematika harus dipandang secara positif untuk mengurangi kecemasan. Keadaan pikiran seseorang memiliki pengaruh besar terhadap kesuksesannya. Banyak permainan yang memiliki fenomena konsep matematika. Beberapa permainan yang bermanfaat dan dinikmati bagi pelajar adalah permainan kartu  dan Tangrams.Beberapa permainan tradisional yang memiliki fenomena matematika dapat dipertimbangkan untuk digunakan dalam pembelajaran matematika. Permainan tradisional merupakan salah satu praktik-praktik matematika pada budaya tertentu yang sering disebut dengan Etnomatematika.

Dengan segala ketegangan dan kecemasan, humor matematika sangat dibutuhkan. Anak-anak kecil menikmati permainan kartun dan lelucon. Kartun bisa digunakan untuk mengenalkan konsep atau untuk diskusi kelas. Kebanyakan anak akan menguasai konsep dan keterampilan matematika lebih mudah jika dipresentasikan terlebih dahulu dalam gambar, gambar dan simbol. Misalnya manipulatif adalah benda konkret yang digunakan untuk mengajarkan sebuah konsep. Dengan menggunakan manipulatif, gambar dan simbol untuk dijadikan model atau mewakili gagasan abstrak, ditetapkan bagi anak anak untuk memahami abstraksi dari model-model yang diwakili. Siswa menikmati perubahan dari ceramah dan buku dan mereka lebih cenderung untuk mengeksplorasi dengan manipulatif dan menunjukkan ketertarikan yang lebih besar pada tugas pembelajaran di kelas.

Kerjasama kelompok dapat memberi siswa kesempatan untuk bertukar gagasan, mengajukan pertanyaan secara cuma-cuma, saling menjelaskan, mengklarifikasi gagasan dengan cara yang berarti dan mengungkapkan perasaan tentang pembelajaran mereka. Keterampilan ini diperoleh pada usia dini akan sangat bermanfaat sepanjang kehidupan sampai usia dewasa mereka.

Kesimpulannya, kecemasan matematika sangat nyata dan terjadi di antara ribuan orang. Sebagian besar kecemasan ini terjadi pada pembelajaran matematika karena kurangnya pertimbangan gaya belajar siswa yang berbeda. Saat ini, semua orang membutuhkan matematika. Matematika harus dipandang secara positif untuk mengurangi kecemasan matematika

Monday, November 27, 2017

Ini dia Enam (6) Cara untuk Membantu Siswa Memahami Matematika

Ini dia Enam (6) Cara untuk Membantu Siswa Memahami Matematika-Matematika memang merupakan mata pelajaran atau bidang yang yang sulit bagi sebagian besar siswa maupun orang dewasa. Ini kenyataan yang tidak dapat dihindari oleh guru yang akan mengajar matematika. Tujuan akhir dari pengajaran matematika adalah siswa memahami materi yang disajikan, menerapkan keterampilan, dan mengingat konsep untuk digunakan sekarang dan pada masa akan datang. Hanya ada sedikit manfaat pada siswa mengingat rumus atau prosedur untuk mempersiapkan ujian hanya dan cenderung melupakan konsep inti pada satu atau dua minggu setelahnya. Oleh karena itu, adalah sangat penting bagi para guru berfokus pada usaha memastikan bahwa siswa memahami materi dan tidak hanya menghafal prosedur.

Berikut ini adalah enam (6) cara untuk mengajarkan matematika yang berfokus pada pemahaman (understanding) di kelas matematika yang dianjurkan oleh Dr. Matthew Beyranevand pada http://www.edutopia.org :

Membuka Kelas Secara Efektif.

Lima menit pertama pada awal pembelajaran merupakan periode yang penting yang akan sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Periode inilah yang mempengaruhi irama untuk keseluruhan proses pelajaran. Idealnya, guru akan memulai pelajaran dengan berbagi tujuan untuk pembelajaran sehingga siswa akan mengetahui harapan akan apa yang akan terjadi. Selanjutnya, guru dapat memposting dan mengartikulasikan tujuan pembelajaran atau pertanyaan penting ke kelas sehingga siswa mengetahui tujuannya dan, pada akhir pelajaran, dapat menilai sendiri apakah tujuan tersebut telah tercapai untuk mereka. Akhirnya, pembuka pembelajaran mungkin mencakup satu atau lebih masalah pemanasan sebagai cara untuk meninjau dan menilai pengetahuan siswa sebelumnya dalam persiapan untuk paparan materi baru (Apresepsi dan Motivasi).

Perkenalkan topik dengan menggunakan banyak representasi.

Semakin banyak jenis representasi yang dapat guru sampaikan kepada siswa yang pada umumnya memiliki gaya belajar berbeda, semakin besar kemungkinan mereka akan benar-benar memahami konsep yang dipresentasikan. Representasi yang berbeda bisa termasuk menggunakan media manipulatif, menunjukkan gambar, menyelesaikan masalah, dan menawarkan representasi simbolis. Misalnya, ketika menyajikan hubungan linier dengan yang tidak diketahui, ilustrasikan kepada siswa tentang masalah yang sama seperti persamaan, pada garis bilangan, dalam kata-kata, dan gambar. Siswa yang terpapar dan dapat mengenali hubungan yang sama yang ditimbulkan dalam mode representasi yang berbeda lebih cenderung memiliki pemahaman konseptual yang lebih baik.

Menyiapkan banyak Permasalahan terkait topik untuk diselesaikan

Di situasi pembelajaran yang terbaik, guru mampu menunjukkan cara yang berbeda untuk memecahkan masalah yang sama dan mendorong siswa untuk mendapatkan cara kreatif mereka sendiri untuk menyelesaikannya. Semakin banyak strategi dan pendekatan yang dihadapi siswa, semakin dalam pemahaman konseptual mereka tentang topik tersebut. Memberdayakan siswa untuk menciptakan metode pemecahan masalah mereka sendiri dapat membuat guru gugup. Bagaimana jika kita tidak mengikuti logika mereka? Bagaimana jika mereka salah? Namun, ada baiknya jika mereka memiliki risiko untuk mengeksplorasi. Setelah individu, pasangan, atau kelompok kecil siswa menyelesaikan pemecahan masalah kelas dengan menggunakan satu metode, dorong mereka untuk mencari cara alternatif untuk menghasilkan solusi yang benar. Setelah siswa mengembangkan metode mereka sendiri dan kemudian berbagi langkah yang benar dengan kelas adalah pengalaman belajar yang sangat hebat.

Tampilkan aplikasi.

Dalam dunia yang nyata, siswa akan selalu bisa menunjukkan bagaimana setiap konsep dapat diterapkan ke dunia nyata - dan bila memungkinkan, ini membantu meningkatkan pemahaman siswa. Bila sebuah konsep tidak dapat diterapkan dengan cara itu, guru masih dapat berbagi bagaimana penerapannya dalam matematika atau bidang studi lainnya. Pilihan lain adalah menunjukkan bagaimana konsep tersebut dikembangkan melalui sejarah matematika. Pertimbangkan untuk mengambil satu menit dari setiap pelajaran untuk menunjukkan kepada siswa di mana atau bagaimana matematika dapat dilihat atau digunakan dalam kehidupan di luar kelas.

Mintalah siswa menyampaikan alasan mereka.

Siswa perlu menjelaskan alasan mereka saat memecahkan masalah. Hal ini bertujuan agar seorang guru memastikan apakah setiap siswa benar-benar memahami materi yang dipelajari. Penting bagi setiap siswa untuk berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan. Dengan memberi kelas sepuluh menit untuk mendiskusikan alasan mereka satu sama lain sambil menjelajahi banyak cara untuk memecahkan masalah, guru akan mempromosikan keterlibatan siswa dalam pembelajaran yang sangat baik. Tidak selalu mudah mengajak siswa berbicara di kelas, tapi tentu saja ada cara tertentu untuk mendorong mereka agar dapat menyampaikan alasan yang diminta.

Mengakhiri Pelajaran dengan ringkasan.

Semua orang bisa tersesat di kelas, dan mudah kehilangan jejak waktu sampai bel berbunyi dan kelas sudah berakhir. Tujuh menit terakhir mungkin yang paling penting dalam memastikan siswa memahami tujuan belajar hari itu. Guru dapat menggunakan waktu ini untuk mencapai tiga hal yang sangat penting yaitu:
  1. Penilaian formatif cepat untuk menentukan berapa banyak yang dipelajari, misalnya siswa menilai sendiri pemahaman mereka terkait konsep yang dipelajari pada skala 1-5
  2. Meninjau tujuan untuk pembelajaran dan diskusi singkat tentang materi yang akan dipelajari berikutnya
  3.  Meninjau pekerjaan rumah bersama-sama untuk menghindari kebingungan.

Mengapa Matematika Terlihat Sulit Bagi Sebagian Besar Pelajar ? Bagaimana Solusinya ?

Mengapa Matematika Terlihat Sulit Bagi Sebagian Besar Pelajar? Bagaimana Solusinya?- Beberapa waktu lalu beberapa guru mengeluhkan tentang sulitnya mereka mengajarkan beberapa orang siswanya. Mereka bercerita bahwa hampir sebagian siswa mereka sangat sulit untuk mengikuti pelajaran matematika yang mereka ajarkan. Menanggapi keluhan ini kami sedikit berdiskusi dan saya teringat artikelnya Grace Fleming dalam tulisannya di https://www.thoughtco.com dengan judul : Why Math Seems More Difficult for Some Students ? Pada artikel tersebut, Fleming memulai tulisannya dengan mengutip hasil polling pada tahun 2005 oleh Gallup dimana pada polling tersebut meminta siswa menyebutkan pokok bahasan sekolah yang mereka anggap paling sulit. Hasilnya telah diprediksi bahwa, matematika merupakan materi yang paling sulit bagi sebagian besar pelajar.

Lalu yang menjadi pertannyaannya, mengapa matematika begitu menyulitkan?

Dictionary.com mendefinisikan kata sulit karena "tidak mudah atau mudah dilakukan; membutuhkan banyak tenaga, keterampilan, atau perencanaan yang akan berhasil dilakukan. " (difficult as “not easily or readily done; requiring much labor, skill, or planning to be performed successfully.)

Definisi ini sampai pada pokok masalahnya ketika menyangkut soal matematika-khususnya pernyataan bahwa tugas yang sulit adalah tugas yang tidak "mudah" dilakukan. Hal yang membuat matematika sulit bagi banyak siswa adalah bahwa dibutuhkan kesabaran dan ketekunan. Bagi banyak siswa, matematika bukanlah sesuatu yang datang secara intuitif atau otomatis - sehingga dibutuhkan banyak usaha. Matematika adalah mata pelajaran yang terkadang mengharuskan siswa untuk mencurahkan lebih banyak waktu dan tenaga. Ini berarti, bagi banyak pelajar, masalahnya tidak banyak berhubungan dengan kekuatan otak; sebagian besar mengalami masalah daya tahan. Dan karena siswa tidak membuat garis waktu mereka sendiri ketika harus "mendapatkannya," mereka bisa kehabisan waktu saat guru beralih ke topik berikutnya.

Matematika dan Jenis Kecerdasan

Tapi ada juga unsur gaya otak dalam gambaran besar, menurut banyak ilmuwan. Akan selalu ada pandangan menentang topik apapun, dan proses pembelajaran manusia tunduk pada debat yang sedang berlangsung, sama seperti topik lainnya. Tapi banyak teoretikus percaya bahwa orang dihubungkan dengan kemampuan pemahaman matematika yang berbeda.
Menurut beberapa ilmuwan sains otak, pemikir otak kiri yang logis cenderung memahami hal-hal secara berurutan, sementara artistik, intuitif, otak kanan lebih bersifat global. Mereka mengambil banyak informasi sekaligus dan membiarkannya "masuk." Jadi, siswa dominan otak kiri dapat memahami konsep dengan cepat sementara siswa dominan otak kanan tidak melakukannya. Bagi siswa dominan otak kanan, selang waktu itu bisa membuat mereka merasa bingung dan terbelakang. Tapi di ruang kelas yang banyak siswa dan tuntutan materi yang padat- tambahan waktu mungkin bukanlah sebuah solusi. Guru akan tetap melanjutkan materi, entah siswa siap atau tidak.

Matematika merupakan Disiplin Kumulatif

Math know-how bersifat kumulatif, yang berarti ia bekerja seperti tumpukan blok bangunan. Anda harus mendapatkan pemahaman di satu bidang sebelum Anda dapat secara efektif melanjutkan untuk "membangun" area lain. Blok bangunan matematika pertama pada saat siswa berada di sekolah dasar, ketika mereka mempelajari aturan untuk penambahan dan perkalian. Blok bangunan berikutnya datang di sekolah menengah, saat siswa pertama kali belajar tentang rumus-rumus dan operasi. Masalah besar mulai muncul antara sekolah menengah dan sekolah menengah atas, karena siswa sangat sering beralih ke kelas baru atau materi baru sebelum mereka benar-benar siap. Siswa yang mendapatkan "C" di sekolah menengah telah menyerap dan memahami setengah dari apa yang seharusnya mereka lakukan, namun mereka tetap melanjutkannya. Mereka pindah atau pindah, karena mereka berpikir C cukup baik; Orang tua tidak menyadari bahwa bergerak tanpa pemahaman penuh menimbulkan masalah besar bagi sekolah menengah dan perguruan tinggi; Guru tidak punya cukup waktu dan tenaga untuk memastikan setiap siswa memahami setiap konsep. Jadi siswa beralih ke tingkat berikutnya dengan fondasi yang benar-benar goyah. Dan hasil dari fondasi yang goyah adalah bahwa akan ada batasan serius dalam hal pengembangan - dan memiliki potensi kegagalan total pada suatu saat. Untuk itu, Setiap siswa yang menerima gelar C di kelas matematika harus meninjau ulang dengan seksama untuk memastikan mengambil konsep yang akan mereka butuhkan nanti. Sebenarnya, sangat pintar untuk menyewa seorang tutor untuk membantu Anda meninjau setiap saat Anda menemukan bahwa Anda telah melakukan sturggled di kelas matematika!

Bagaimana Solusi Agar Matematika Tidak Sulit ?

Untuk menjawab pertanyaan mengapa matematika itu sulit, Fleming memberikn alasan-alasan sebagai berikut:
  1. Matematika nampaknya sulit karena butuh waktu dan energi.
  2. Banyak orang tidak mengalami cukup waktu untuk "mendapatkan" pelajaran matematika, dan mereka tertinggal saat guru tersebut melanjutkan.
  3. Banyak yang beralih untuk mempelajari konsep yang lebih kompleks dengan dasar yang goyah.
  4. Jika sering berakhir dengan struktur lemah yang pasti akan runtuh pada titik tertentu.
Perbaikannya untuk alasan alasan yang tertera di atas menurut Fleming cukup mudah-jika kita cukup sabar! Tidak masalah di mana Anda berada dalam studi matematika Anda, Anda bisa unggul jika Anda mundur cukup jauh untuk memperkuat fondasi Anda. Anda harus mengisi lubang dengan pemahaman mendalam tentang konsep dasar matematika yang Anda hadapi di sekolah menengah.
  1. Jika Anda berada di sekolah menengah sekarang, jangan mencoba untuk terus maju sampai Anda memahami konsep pra-aljabar secara penuh. Dapatkan tutor jika perlu.
  2. Jika Anda di SMA dan berjuang dengan matematika, download silabus matematika sekolah menengah atau menyewa seorang tutor. Pastikan Anda memahami setiap konsep dan aktivitas yang tercakup dalam kelas menengah.
  3. Jika Anda di perguruan tinggi, mundur semua jalan untuk matematika dasar dan bekerja ke depan. Tentu saja ini tidak akan memakan waktu.

Ini dia 7 Tips untuk Menyelesaikan Masalah Matematika


Ini dia 7 Tips untuk Menyelesaikan Masalah Matematika It's not that I'm so smart, it's just that I stay with problems longer (Albert Einstein). Matematika adalah mata pelajaran yang menuntut setiap siswa harus belajar secara terus menerus. Sebenarnya, banyak orang yang menyukai matematika tetapi jika kita jujur, lebih orang yang benci belajar matematika. Banyak orang yang acuh tak acuh, menganggap bahwa toh tanpa matematika mereka bisa hidup. Bagi siswa apalagi yang berada di usia dini dan sekolah dasar matematika menjadi sangat penting untuk bisa melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Kebanyakan mata kuliah di universitas pasti akan memasukan kurikulum matematika pada kondisi dan tingkat tertentu. Selain itu, hampir setiap profesi menuntut penguasaan matematika karena orang yang masuk profesi tersebut menggunakan matematika dalam beberapa bentuk setiap hari.

Saya sangat percaya bahwa banyak siswa yang ingin belajar matematika namun mereka tidak tahu bagaimana untuk belajar matematika agar mendapatkan hasil yang baik. Matematika merupakan satu dari setiap mata pelajaran yang seharusnya dapat dipelajari dengan mudah kalau orang yang akan belajar matematika lebih bijaksana dalam belajar. Mungkin banyak orang yang mengalami ketika sudah banyak belajar sekian materi matematika namun tidak bisa menyelesaikan ujian matematika dengan baik. Padahal yang penting bagi kita adalah cukuplah belajar matematika yang berguna bagi diri kita masing masing. Dan apapun yang diujikan selalu berdasarkan ekpektasi akan materi yang seharusnya dikuasai oleh orang yang mengikuti ujian.

Inti dari belajar matematika sebenarnya adalah dapat menyelesaikan berbagai permasalahan dimana permasalahan tersebut menuntut penggunaan matematika dan sering juga disebut permasalahan matematika. Tentu saja, bagi setiap orang akan menganggap suatu soal matematika menjadi masalah bagi dirinya sedangkan bagi yang lain menganggap soal tersebut bukan merupakan masalah. Seperti kutipan pada awal tulisan ini : "It’s not that I’am so smart, it’s just that I stay with problems longer” (Albert Einstein).

Kurang lebih catatan penting bagi kita adalah bahwa dalam hubungan dengan persoalan matematika, orang bisa menyelesaikan soal matematika bukan karena orang tersebut cerdas tetapi harus sering berlatih dalam menemukan solusi dari persoalan matematika. Artinya kedekatan dengan berbagai permasalahan matematika adalah hal penting agar dapat menyelesaikan persoalan-persoalan matematika.

Latihan, latihan dan terus latihan

Tidak mungkin kita dapat belajar matematika dengan baik dengan hanya membaca dan mendengarkan. Untuk mempelajari matematika kita harus berlatih secara kontinyu dan benar-benar memecahkan beberapa masalah matematika. Semakin sering berlatih menjawab masalah matematika, semakin baik. Setiap masalah memiliki karakteristik sendiri dan itu penting dan harus telah dipecahkan dengan berbagai cara sebelum misalnya menghadapi ujian. Agar berhasil dalam ujian misalnya, kita tidak dapat menghindar dari berlatih menyelesaikan berbagai soal agar dapat menghadapi ujian matematika dengan baik.

Selalu melihat kembali kesalahan penyelesaian masalah


Ketika berlatih menyelesaikan suatu masalah atau soal matematika, penting untuk bekerja secara bertahap untuk setiap tahap penyelesaian soal yang mungkin. Jika merasa telah membuat kesalahan, sedapat mungkin harus meninjau kembali kesalahan tersebut dan memahami di tahap mana membuat kesalahan. Belajar dari kesalahan merupakan salah satu cara untuk menjadi lebih baik dan menghindari kesalahan yang sama di masa depan.

Menguasai Konsep-Konsep Matematika yang Penting

Kesalahan utama kita dalam belajar matematika adalah mencoba untuk menghafal proses penyelesaian soal. Hal ini tentu sangat kontra-produktif. Akan jauh lebih baik dan bermanfaat untuk jangka panjang jika kita fokus pada pemahaman proses dan logika yang terlibat. Ini akan membantu kita memahami bagaimana seharusnya menyelesaikan masalah yang sama di masa depan. Perlu dingat bahwa Matematika adalah mata pelajaran berurutan dan hirarkis. Jadi penting untuk memiliki pemahaman yang kuat tentang konsep-konsep kunci yang mendukung topik matematika yang lain yang soal-soalnya memiliki solusi yang lebih kompleks yang didasarkan pada pemahaman konsep sebelumnya.

Memahami Keragu-raguan saat menyelesaikan soal-soal matematika


Kadang-kadang kita bisa terjebak dalam situasi dimana pada suatu topik dan merasa sulit untuk melanjutkan ke tahap berikutnya. Situasi ini sangat umum terjadi ketika kita melewati suatu soal dan ragu-ragu untuk melanjutkan ke soal atau permasalahan berikutnya. Cara paling baik adalah jika kita sudah menyelesaikan masalah atau soal dengan prosedur yang benar kita bisa meninggalkannya untuk menyelesaikan atau belajar menyelesaikan soal di topik yang lain.

Menciptakan Lingkungan Belajar yang Bebas dari Gangguan

Matematika adalah mata pelajaran yang membutuhkan konsentrasi lebih dari yang lain. Sebuah lingkungan belajar yang tepat dan bebas gangguan bisa menjadi faktor penentu ketika memecahkan persamaan yang kompleks atau masalah dalam geometri, aljabar atau trigonometri. Misalnya kita ingin menggunakan alunan musik dalam menemani kita untuk mengerjakan tugas atau belajar matematika, itu sah-sah saja. Belajar dengan musik dapat membantu menciptakan suasana santai dan merangsang aliran informasi dalam otak kita. Memilih jenis musik yang cocok dapat meningkatkan konsentrasi. Tentu saja, kita harus menghindari Pitbull dan Eminem, mungkin musik instrumental adalah hal terbaik saat belajar matematika.

Membuat Kamus Matematika

Matematika memiliki istilah yang spesifik dengan banyak kosa kata. Untuk itu kita perlu membuat catatan dengan semua konsep, istilah dan definisi yang perlu kita ketahui saat mempelajari suatu konsep. Hal ini penting dilakukan karena ketika kita lupa tentang berbagai terminologi yang berhubungan dengan topik yang kita pelajari, maka kita akan membutuhhkan catatan-catatan penting tersebut.

Berlatih menyelesaikan soal-soal dunia nyata yang berhubungan dengan matematika.

Sedapat mungkin, cobalah untuk menerapkan matematika untuk menyelesaikan masalah di dunia nyata. Matematika memang sangat abstrak tetapi begitu sampai pada aplikasi praktis dapat membantu mengubah perspektif kita tentang matematika dan menerima perspektif perpektif tentang yang berbeda. Probabilitas, misalnya, dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk memprediksi hasil dari sesuatu yang terjadi dan menentukan apakah kita ingin mengambil risiko seperti apakah kita harus berbuat sesuatu yang dapat menguntungkan atau merugikan diri kita.

Demikianlah 7 Tips dalam menyelesaikan soal-soal atau permasalahan matematika. Semoga bermanfaat !

Sunday, November 26, 2017

SPIRIT KULABABONG DALAM PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER YANG KONTEKSTUAL DIKEMBANGKAN OLEH WAHANA VISI INDONESIA

SPIRIT KULABABONG DALAM PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER YANG KONTEKSTUAL - ‘Kulababong’ sebagaimana dijelaskan anak-anak SDK Wualadu: terdiri dari dua kata yakni ‘kula’ yang artinya berbicara dan ‘babong’ artinya bebas (yang ditambahkan lagi oleh orang-orang tua dengan ‘bebas cenderung sembarangan’). Jadi ‘kulababong artinya berbicara bebas. Orang-orang tua menjelaskan bahwa ‘kula’ artinya berbicara bersama oleh sekelompok orang. Ataukah orang-orang berkelompok dan berbicara bersama. Muncul beberapa konsep yang berkaitan dengan kulababong: kula kara, kula lalang, dan kula kameng. Samua memiliki arti urung rembuk (musyawarah), namun di antaranya terdapat perbedaan. Kula kameng dan kulababong sama, yaitu musyawarah untuk mufakat. Di dalam berkulababong yang penting adalah saling menghargai (menghargai pendapat orang lain), saling mendengar (yang lain bicara yang lain dengar, dan berikan kesempatan orang lain berbicara), dan tidak memaksakan kehendak. Kulababong bisa juga diartikan dengan duduk bersama untuk membicarakan segala hal. Di dalam berkulababong semua orang aktif berbicara, mengemukakan pendapat untuk menyelesaikan masalah. Jika masalah itu tidak bisa diselesaikan di dalam kulababong maka ditawarkan untuk di bawa ke Duamoat (pemerintah). Penyelesaian perkara di tingkat pemerintah disebut ‘kula kara’. Sementara ‘kulalalang’ pembicaraan untuk menemukan solusi, jalan, cara. Dalam ‘kulalang’ hanya orang tertentu saja yang berbicara, biasanya tua-tua adat. Yang dituntut dalam berkulababong adalah: hati yang baik (waten mi), mengajak orang untuk bersama-sama – kebersamaan/persaudaraan (imung deung) berbicara yang menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang berguna bagi semua, atau dapat menyelesaikan suatu persoalan, sesulit apapun persoalan itu (tatinahing). Kulababong maten potat: Urung rembuk urusan kematian. Kulababong bisa ngaisiang (pintar dan beradab/bijaksana): urung rembuk pendidikan.

Kulobabong di desa Hepang Kecamatan Nita, sudah menjadi kesepakatan budaya sebagai spirit dalam menyelesaikan suatu urusan dilingkup internal masyarakat maupun pada tingkatan yang lebih luas. Urusan ini juga menyangkut hak hidup anak, karaktek anak, tingkah laku anak dan tata nilai yang perlu dianut oleh masyarakt setempat. Kata kulobabong diartikan sebagai urung rembuk/musyarawarah mufakat. Penamaan kata tersebut dalam spirit Kulobabong terdapat beberapa kata sebagai panduan dalam merekat apa yang diurungrembuk atau dimusyawarahkan.

Kulababong sebagai sebuah spirit temuan lainnya mengatakan bahwa, didalam implementasi kulobabong terdapat kula kameng.dimengerti sebagai suatu kebijakan-kebijakan kemudian menghasilkan sebagai suatu keputusan yang disebut kula kara. Sebelum dilakukan kulababong didahului utun omok yakni mengajak orang untuk berkumpul.dan fungsinya untuk menghindari pembicaraan lepas tanpa fokus atau omong-omong saja, yang disebut wora wota. (disadur dari Tulisan Ignasius Batuona, Laporan Kunjugan ke Sikka, Februari 2013)

Karakter kulababong adalah saling menghargai dan saling mendengar dan tidak memaksakan kehendak. Semua orang aktif berbicara untuk menyelesaikan masalah. Dengan demikian, karakter kulababong ini diharapkan dimiliki oleh setiap pelaku pendidikan sehingga pendidikan karakter yang kontekstual di Kabupaten Sikka dapat terwujud.

Dikutip dari tulisan Mbak Debora Dapamerang (Wahana Visi Indonesia)  yang dikirim untuk Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar Prodi PGSD Uniflor.

Tahapan Program Pendidikan Karakter Kontekstual Wahana Visi Indonesia

Tahapan Program Pendidikan Karakter Kontekstual Wahana Visi Indonesia - Wahana Visi Indonesia –ADP Sikka berkomitmen untuk terlibat aktif dalam mewujudkan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak di Sikka, juga berkontribusi positif untuk mengembalikan anak-anak Sikka menemukan identitas mereka sebagai orang Sikka yang mempunyai kepribadian dengan nilai-nilai luhur warisan leluhur seperti saling menghormati, musyawarah untuk mufakat, kebersamaan, kerja keras, dan lain-lain nilai juang di dalam kehidupan. Tentunya perlu ada kerjasama yang harus dibangun dalam mewujudkan mimpi ini, sehingga WVI melakukan komunikasi intensif dengan para mitra seperti Dinas PPO Kab. Sikka, Komdik Keuskupan Maumere, Sanpukat, konsultan pendidikan TRUE dan DED, juga bahkan pemda Provinsi NTT terlibat aktif untuk mewujudkan pendidikan karakter yang kontekstual di Kabupaten Sikka. Strategi yang disepakati dengan pihak mitra adalah WVI ADP Sikka akan melakukan pendampingan kepada 6 sekolah contoh yang diterletak di kecamatan Nita, Lela dan Doreng. Diharapkan selama/setelah pendampingan terjadi, apabila dianggap berhasil maka mitra lainnya seperti Dinas PPO dan keuskupan akan mereplikasi ke sekolah lainnya. Salah satu yang dikembangkan adalah spirit Kulababong. Kerangka proses program pendidikan Karakter yang Kontekstual dengan spirit ini memunyai 8 tahapan:

Tahap 1: membangun kemitraan

Pada tahap 1, kajian-kajian bersama mitra dilakukan secara intensif. Menemukan bersama permasalahan dan pembagian peran masing-masing untuk mencapai tujuan dari program.

Tahap 2: Assessment potensi lokal

Pada tahap 2, dilakukan kajian awal (rapid assessment) tentang masalah dan penggalian potensi untuk pengembangan Pendidikan Karakter yang Kontekstual. Pada tahap ini, Action Research dilakukan untuk menggali latar belakang dari program ini dilakukan, termasuk menemukan bahasa bersama dengan berbagai pihak tentang program pendidikan ini. Salah satunya adalah kata Kulababong yang muncul workshop penggalian potensi budaya Sikka. Action research meneliti sejauh apa Kulababong memberikan makna terhadap perubahan pendidikan di Kabupaten Sikka. Sehingga pada akhirnya melalui Action Research, kulababong ditentukan sebagai Spirit atau semangat bersama yang mencerminkan sifat-sifat yang seharusnya ada pada saat Kulababong dilakukan.

Tahap 3: peningkatan kapasitas

Pada tahap 3, peningkatan kapasitas dilakukan kepada guru, mitra, komite sekolah dan orangtua atau masyarakat di desa tempat sekolah berdiri. Peningkatan kapasitas ini kerjasama dengan konsultan ekternal yaitu TRUE dan DED. Masing-masing konsultan memiliki metode yang variatif dan diharapkan dapat meningkatkan metode pembelajaran yang diterapkan guru-guru di kelas. Action Research berperan untuk menemukan permasalahan-permasalahan di sekolah melalui FGD dengan tenaga pendidik dan anak-anak didik, juga kepada tokoh-tokoh masyarakat bagaimana mereka juga dapat berperan dalam mewujudkan sekolah yang menerapkan budaya sebagai materi ajar dan penanaman nilai-nilai positif yang diwariskan leluhur di Kabupaten Sikka. Action Research melakukan penelitian tentang kearifan lokal yang ada di Sikka sehingga hasil penelitian ini menjadi bank budaya (berupa dokumen) yang dengan mudah diakses oleh para guru sebagai media/bahan ajar di sekolah. Kesuksesan pada tahap 2 ini, khususnya peningkatan kapasitas guru disekolah, maka akan melahirkan modul-modul pembelajaran di kelas.

Tahap 4: Pengembangan Modul

Modul yang dikembangkan adalah modul-modul yang dihasilkan oleh guru-guru selama proses pendampingan peningkatan kapasitas dilakukan. Sehingga modul-modul ini memang hasil karya guru sendiri, dan mudah untuk mereka mempraktekkannya di sekolah baik didalam kelas atau diluar kelas. Action Research menelaah tentang modul yang ada dan melakukan eksplorasi langsung kepada anak dan orangtua untuk menemukan sejauh apa modul-modul tersebut sesuai dengan tingkat kemampuan dan alur berfikir anak, juga sejauh apa dapat memberikan manfaat kepada orangtua saat mendampingi anak belajar di rumah.

Tahap 5: Promosi dan Advokasi

Pada tahap ini, bentuk promosi dan advokasi yang dilakukan melalui pertunjukan atau pameran hasil karya baik langsung melihat di sekolah atau melalui hasil dokumentasi lainnya. Mitra mengambil peran kunci dimana apabila dianggap sekolah contoh yang didampingi oleh ADP yaitu 6 sekolah sudah berhasil menunjukkan bukti-bukti nyata sesuai dengan output program pendidikan karakter yang kontekstual, mitra akan melakukan upaya-upaya replikasi. Action Research akan menelusuri strategi replikasi yang memang efektif baik dari sudut pandang dana, sumber daya manusia, dan juga waktu yang dibutuhkan. Bahkan diharapkan dapat menemukan kerangka berfikir yang konkrit sampai program pendidikan karakter kontekstual ini akan diadopsi sampai ke level provinsi atau nasional

Tahap 6: Formulasi Master Teacher

Pada tahap 6, master teacher berasal dari para guru-guru yang didampingi selama program. Akan ditemukan guru-guru yang memang mempunyai kompetensi sebagai fasilitator. Master teacher bukan hanya sebagai fasilitator terhadap sekolahnya bahkan untuk peningkatan kapasitas guru-guru di sekolah lainnya. Master teacher juga akan berfungsi sebagai motivator kepada para guru-guru untuk terus menyalakan panggilan mulia untuk memperbaiki kehidupan anak.

Tahap 7: Membangun kemitraan legal formal – perluasan model

Pada tahap ini, sasarannya pada kebijakan berupa perda atau surat keputusan dari pemangku kepentingan tertinggi untuk mengesahkan sekolah contoh tersebut menjadi model untuk replikasi di sekolah lainnya.

Tahap 8: Monitoring dan Dokumentasi

Pada tahap ini, Action research akan membantu menemukan tools/instrumen untuk melakukan refleksi dan aksi. Proses refleksi dilakukan secara periodik dan ditemukan gambaran pencapaian keberhasilan pada anak, masyarakat dan pemerintah. Hal ini untuk memudahkan ADP dan mitra melihat progress program dan menemukan solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul pada saat program berjalan. 

Dikutip dari tulisan Mbak Debora Dapamerang yang dikirim untuk Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar Prodi PGSD Uniflor.